Tangerang, cyberSBI — Sebuah kisah keluarga di Tangerang menjadi sorotan setelah seorang anak memaki- maki dan menuduh orang tuanya tanpa dasar. Dalam peristiwa yang terjadi di rumah keluarga Esse, sang anak Jeje yang kini tinggal di Cina mengaku kaya namun sedang 'sakit' selalu melontarkan kata‑kata kasar kepada ibunya setiap kali bertemu.
“Ibu dan bapak tidak pernah memperhatikan saya!” teriaknya, seperti dituturkan Esse kepada wartawan.
Ia juga menuntut agar ibunya tidak lagi meminta uang bulanan, bahkan meminta uang resepsi dan belanja masing‑masing Rp10 juta.
Esse menjelaskan bahwa tuduhan anaknya mengirim uang bulanan hanyalah halusinasi.
“Tidak ada bukti transfer, tidak ada rekening koran. Semua hanya pengakuan sepihak,” ujarnya, Sabtu (10/8/2026).
Ia menambahkan bahwa uang Rp10 juta yang diminta anaknya sudah diberikan sesuai catatan penggunaan, bahkan sering kali ia menambah dari kantong sendiri tanpa meminta kembali karena takut dimarahi.
Sang anak juga menuduh ibunya mencuri emas satu gram yang disimpan di rumah. Esse menegaskan tuduhan itu tidak benar. “Emasnya masih ada, hanya saya sembunyikan supaya aman,” katanya.
Ia mengaku anaknya bahkan mengancam akan mempolisikan dirinya dan suami dengan tuduhan pencurian.
“Saya bilang, jangan sembarangan menuduh tanpa bukti. Kalau terus begitu, justru dia yang bisa berurusan dengan hukum,” tambahnya.
Menurut Esse, sejak kecil anaknya mendapat perhatian penuh.
“Kami beri susu Procal Gold dua kaleng seminggu selama lima tahun, imunisasi lengkap sampai MMR yang mahal. Setelah SMA, kami tanya mau kuliah atau tidak, dia sendiri bilang otaknya tidak mampu dan ingin bekerja saja,” tutur Esse mengenang.
Kasus ini mencerminkan dilema orang tua menghadapi anak yang merasa tidak pernah cukup diperhatikan, padahal segala kebutuhan sudah dipenuhi.
“Kami hanya ingin dia sadar, jangan memaki maki terus, menuduh dan memfitnah orang tua sendiri,” kata Esse menutup pembicaraan.
Supaya sakit hati tidak makin parah, ibunya menghindar dari makian yang ia lontarkan setiap hari ke tempat sunyi.
Hubungan anak–orang tua adalah fondasi psikologis utama pembentukan kepribadian.
Ketika relasi dipenuhi konflik, tuduhan, atau komunikasi yang keras, anak berisiko mengalami disfungsi emosi, perilaku agresif, dan kesulitan sosial.
Sebaliknya, pola komunikasi hangat dan konsisten membentuk rasa aman, empati, serta kepercayaan diri.
Faktor psikologis yang paling berpengaruh antara lain attachment atau kelekatan, yang terbentuk sejak masa kecil.
Attachment yang aman membuat anak mampu mengatur emosi dengan sehat, sementara insecure attachment memicu rasa tidak aman dan mudah menyalahkan.
Selain itu, pola komunikasi keluarga juga menentukan. Komunikasi terbuka membantu anak mengekspresikan perasaan dengan sehat, sedangkan komunikasi keras memperkuat sikap defensif.
Interaksi sehari‑hari antara orang tua dan anak pun berperan besar. Interaksi berkualitas dengan dukungan emosional konsisten membentuk empati, sementara pola asuh otoriter justru menumbuhkan perilaku agresif.
Dampak psikologis dari relasi ini terlihat jelas.
Dalam aspek emosi, hubungan positif menghasilkan regulasi sehat, sedangkan hubungan negatif membuat anak mudah marah. Secara sosial, relasi hangat menumbuhkan rasa percaya diri, sementara relasi penuh konflik membuat anak sulit bergaul.
Dari sisi kognitif, komunikasi sehat mendorong berpikir kritis, sedangkan komunikasi keras membuat anak tertutup. Dalam keluarga, relasi positif menciptakan keharmonisan, sedangkan relasi negatif berujung pada konflik bahkan ancaman hukum.
Jalan keluar psikologis bisa ditempuh melalui terapi keluarga untuk memperbaiki pola komunikasi, manajemen emosi agar anak dan orang tua sama‑sama belajar mengendalikan marah, serta intervensi berbasis attachment untuk memperkuat rasa aman.
Selain itu, mediasi damai dapat mencegah konflik masuk ke ranah hukum.
Jika tidak ditangani, anak bisa semakin terjebak dalam halusinasi atau tuduhan tanpa dasar, orang tua mengalami luka emosional berkepanjangan, dan konflik berpotensi berujung pada proses hukum.
Relasi anak–orang tua bukan sekadar soal materi, melainkan soal kelekatan emosional dan komunikasi sehat. Intervensi psikologis berbasis attachment dan terapi keluarga menjadi langkah paling efektif untuk memulihkan hubungan. (*)
Social Plugin