Kuningan,cybersbi - Keindahan Arunika di Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, selama ini menjadi daya tarik wisata unggulan di Kabupaten Kuningan. Namun di balik panorama alam yang memikat, peta geologi menunjukkan fakta penting: kawasan tersebut berada di lereng gunung api dengan karakter tanah yang sensitif terhadap gangguan.
Berdasarkan Peta Geologi Lapangan Panas Bumi Gunung Ciremai, wilayah Cisantana termasuk bagian dari sistem vulkanik Gunung Ciremai. Secara geologi, area ini tersusun oleh material hasil aktivitas gunung api seperti lava, breksi, dan tuf vulkanik. Jenis batuan tersebut dikenal berpori, mudah menyerap air, dan relatif rapuh dibandingkan batuan keras di dataran stabil.
Dalam kondisi alami, lereng tetap stabil karena keseimbangan antara kemiringan tanah, tutupan vegetasi, dan sistem aliran air. Akar tanaman membantu mengikat tanah, sementara air hujan meresap dan mengalir secara terkendali. Namun ketika terjadi perubahan kontur lahan, pengurangan vegetasi, atau pembangunan struktur permanen, keseimbangan tersebut dapat terganggu.
Karakter batuan vulkanik yang berpori membuat lereng cepat jenuh air saat hujan deras. Kondisi ini meningkatkan beban tanah dan dapat menurunkan daya ikat antar material, sehingga berpotensi memicu longsor. Risiko semacam ini merupakan karakter umum kawasan lereng gunung api di Indonesia.
Peta geologi memang tidak menentukan legalitas pembangunan. Namun peta tersebut berfungsi sebagai alat identifikasi risiko alam. Fakta bahwa Arunika berada di zona lereng vulkanik sensitif menunjukkan perlunya kajian teknis yang lebih ketat dalam setiap tahap perencanaan dan pengembangan kawasan.
Membaca risiko dari peta berarti memahami bahwa keindahan alam dan kerentanan geologi berjalan berdampingan. Oleh karena itu, pendekatan pembangunan di kawasan lereng vulkanik harus mengutamakan prinsip kehati-hatian, mitigasi risiko, serta berbasis kajian ilmiah yang komprehensif/ (GUNTUR – Kaperwil)

Blogger Comment
Facebook Comment